Screen Shot 2016-05-18 at 15.31.00

Saya menulis ini karena beberapa kali menemui pertanyaan yang ditujukan kepada saya, kenapa kok saya selalu bawa pisau. Hmm. Akhirnya kepikiran untuk menulis alasan saya di blog saya ini, itung-itung curhat sedikit.

Jadi gini, alasan saya kenapa membawa pisau/MultiTools. Sebelumnya saya mau cerita dulu awal muasal saya suka benda tajam ini. Jadi begini ceritanya,

Sebenarnya agak sedikit emosional kalau bercerita perkara suka pisau, tapi gakpapa lah, jadi awalnya adalah Almarhum Eyang saya dulu adalah seorang penggemar barang-barang yang menurut saya yang masih kecil itu mempunyai koleksi yang cowok banget lah, dari akik, jam tangan, sampai ke barang tajam, dari katana/pedang samurai(yang katanya masih bau darah penjajah), bayonet, Pisau Victorinox dengan handle tanduk rusa, sampai keris yang kata seorang pakar adalah keris sepuh yang akhirnya keris tersebut diwariskan ke Bapak saya. Meski akhirnya beberapa barang itu tidak tau keberadaannya sampai sekarang karena hilang tau gimana saya juga cari tidak ketemu selepas eyang saya meninggal.

Ya, namanya juga anak kecil, pasti mempunyai idola masa kecil, nah, idola masa kecil saya waktu itu adalah Almarhum Eyang saya ini. Bahkan ketika saya kecil, saya keplathok arit ketika mainan di sebuah pabrik batik di Solo, bekasnya masih ada sampai sekarang di jari telunjuk saya. Ternyata kesukaan saya tentang barang tajam ini sudah lama salah satunya ketika masa kecil saya sendiri punya pengalaman ketika kecil mlindeske paku di rel kereta sehingga bisa dibuat sebagai pisau2an. Tapi sayangnya mainan itu terlalu bahaya ketika dipegang anak kecil.

Berjalannya waktu sampai akhirnya Eyang saya meninggal saya pun sedikit sedikit kok lambat laun seperti Almarhum Eyang saya, sebelum musim akik, saya sendiri sudah memiliki dan mamakai akik dan pernah saya tulis di sini. Kemudian berjalannya waktu dan rejeki, saya akhirnya bisa membeli pisau sendiri, oh ya, sebelum saya membeli pisau sendiri saya pernah memesan parang dari seorang OB yang kebetulan tetangganya adalah seorang pande besi di Bantul sana.

PISAU PERTAMA SAYA

Perkara pisau pertama saya saya sendiri tak ingin asal memilih pisau, yang jadi pertimbangan saya adalah harga dan kualitas untuk menjadi pisau pertama. Pada awalnya saya sendiri tidak ingin menjadikan mempunyai pisau ini menjadi sebuah hobi dan memang tak ingin jadi hobi, tapi sebagai sarana pertahanan diri.

Agak sedikit bercerita dulu, dahulu saya pernah bekerja di sebuah perusahaan yang saya sendiri harus bekerja di ‘jalanan’, pernah sampai akhirnya saya pun nyaris menjadi korban perampasan. Dari kejadian tersebut saya kemudian berfikir, kayaknya penting juga memiliki alat pertahanan diri ketika berada di jalanan. Apalagi saya sering pulang malam, sehingga kadang diperlukan juga jika keadaan mendesak.

Setelah kejadian itu dan kebetulan memiliki rejeki, saya kemudian memikirkan untuk memiliki alat pertahanan diri, bukan pistol, karena perijinan senjata api sendiri di Indonesia sangat susah untuk sipil membawa senjata api. Meski pisau sendiri untuk perijinan di Indonesia masih belum di-legalkan, banyak kasus orang yang membawa senjata tajam malah tertangkap polisi.

Nah sayapun belajar perihal pisau yang sekiranya bisa diselipkan atau ‘disembunyikan’ dan tidak mencolok ketika disimpan, kemudian jatuh pilihan saya ke Spyderco Tenacious sebagai pisau pertama saya. Kenapa saya memilih Spyderco Tenacious karena pisau ini dari harga juga masih masuk akal dan menurut kabar bahwa pisau Spyderco Tenacious terkenal sebagai pisau yang cukup bandel di kelasnya dan cocok untuk dipakai sebagai alat pertahan diri. Nah, setelah saya memiliki pisau pertama saya, saya agak sedikit merasa ‘aman’, karena ketika saya pergi luar kota dengan motor pulang malam-pun saya tidak masalah. Pisau itu selalu saya bawa kemanapun saya pergi jika memungkinkan. Oh, ya belum menjawab pertanyaan kenapa bawa pisau ya.

Jadi gini, karena racun dari mas sandal(tetep nyalahke :))), saya akhirnya mempunyai pisau sebanyak 5 buah. Spyderco Tenacious, Spyderco Pingo, Kershaw Amplitude, Swiss Army Knife Seri Alox, Leatherman Tools seri Style. Semua pisau memiliki kemampuan dan kegunaan sendiri-sendiri.

  1. Spyderco Tenacious:
    Spyderco Tenacious

    Spyderco Tenacious

    Saya membeli Spyderco Tenacious ini dari rekomendasi seorang yang sungguh mempengaruhi diri saya perihal meracuni hal beginian, beliau adalah mas @sandalian dari mas Yeni ini saya cukup diberikan pengetahuan perihal pisau, karena dari track recordnya beliau ini cukup paham seluk beluk pisau yang termasuk bagian dari EDC(EveryDayCarry). Kemudian saya memberanikan diri untuk memesan pisau itu ke Mas Sony via aku FB-nya Paracraftz. Pada akhirnya pisau ini istirahat dulu, karena pisau ini menurut saya terlalu besar jika dimasukin ke saku celana, dan terlalu intimidatif karena ukurannya jika dibuka di depan umum. Tapi tetap, pisau ini masih menjadi cinta pertama saya.

  2. Spyderco Pingo: 
    spyderco pingo

    Spyderco Pingo

    saya membeli pisau kecil ini dari kawan saya yang meracuni saya babagan pisau ini, siapa lagi kalau bukan mas Yeni. Pada awalnya saya memutuskan untuk membeli karena saya merasa butuh pisau kecil, karena tidak terlalu mencolok/intimidatif ketika dibuka di depan umum. Masih fungsional sebagai alat pembuka bungkus dan memotong/sebagai alat pertahanan diri ketika diperlukan, meski secara design pisau ini imut sekali.

  3. Swiss Army Knife seri Alox:
    Swiss Army Knife Alox

    Swiss Army Knife Alox

    saya jadi ingat ketika masa kecil saya, ketika saya memegang pisau SAK(Swiss Army Knife) kepunyaan Almarhum Eyang saya, dan siapa sih yang gak pengen punya utility knife seperti Mac Gyver. Itulah saya memilih seri ini karena saya melihat banyak kegunaan di dalamnya. Pernah pada suatu saat saya kesulitan untuk membuka botol dan mengencangkan sekrup ketika di jalan dan pisau ini cukup membantu saya.

  4. Leatherman Multi-Tools seri Style:
    Leatherman Style

    Leatherman Style

    sebenarnya saya beli ini karena hanya lapar mata saja waktu itu. Karena seorang teman di FB menjual seri ini dengan harga yang cukup murah, lagipula, di seri Style buatan Leatherman adalah termurah di merk-nya. Dan di dalamnya sebenarnya sudah cukup diwakilkan oleh Swiss Army Knife yang sudah saya miliki.

  5. Kershaw Amplitude 2.5:
    Kershaw Amplitude 2.5

    Kershaw Amplitude 2.5

    saya akhirnya membeli ini karena saya pernah mengalami kejadian agak ndak enak, ketika saya pulang sehabis mengantar pulang pacar(sekarang sudah jadi istri. hehe) saya dibuntutin dan nyaris jadi korban jambret, jadi waktu itu saya hanya membawa SAK(Swiss Army Knife) merasa kalau bawa Swiss Army Knife ini kok lucu saja. Tidak cepat ketika membuka bagian bilah pisaunya, ndak lucu kan ketika dibutuhkan untuk sebagai alat pertahanan diri malah kebuka bukaan botol. 😐 dan Kershaw ini cukup mewakili kecepatan untuk membuka bilahnya karena ada sistem yang dinamakan spring-assisted knife.

nah, itulah kegunaan masing-masing pisau yang saya punya, untuk saat ini pisau yang sekarang sering saya bawa adalah Kershaw Amplitude 2.5 dan SAK(Swiss Army Knife), karena semua mempunyai kebutuhan sendiri-sendiri. Yang lain? Disimpan rapi saja. Kalau Zombie menyerang bumi, nanti baru dipake. 😐

KENAPA SUKA PISAU?

Saya kurang tau kenapa saya sendiri suka pisau pada awalnya, awalnya sih mikir hanya sebuah benda tajam yang berbahaya jika tertusuk atau tergores bagian tajamnya, ternyata setelah mempelajari pisau dan sejarahnya, pisau ini rumit sekali lho. Ambil contoh pisau Spyderco Pingo saja. Pisau kecil itu dibuat oleh Jesper Voxnaes dan Anso, duet designer pisau dari Denmark ini bekerjasama dengan Spyderco sebuah perusahaan pisau dari Amerika membuat salah satu Seri Spyderco Pingo, dari segi keamanan juga ternyata pisau-pisau itu dibuat tidak asal, karena tiap negara yang mempunyai undang-undang keamanan senjata diharuskan memiliki standarisasinya. Tidak asal. Nah, pada akhirnya saya melihat pisau dari sisi yang lain, saya melihat dari sisi keunikan karakter pembuatnya, desainer dll, seperti halnya keris, semua ada karakter dan cerita dibalik bilah keris tersebut. Karena saya yakin, setiap tempaan bilah panas untuk membuat pisau itu ada doa dan harapan dari sang pembuat.

Perkara bahan/material pembuatan pisau. Saya dulu hanya berfikir semua besi bisa jadi pisau, ternyata tidak. Bagaimana sebuah pisau menjadi seri damascus, atau pisau yang anti karat. Nah, itu hanya sedikit cerita.

Macam-macam Bahan Dasar Pisau

  • Pisau Hunter: D2, A2, W2, O1, dst.
  • Pisau Tactical: A2, D2, ,M2, M4, CPM 3V
  • Pisau Utility: W1/W2, 1095, 1084, Cruforge V, O1, CPM 3V, dll
  • Pisau Ukuran besar: 1084, 1095, 5160, CPM 3V, A2, O1, INFI, 52100, S7, L6, dll
  • Pisau Lipat: D2, ATS34/154CM/VG10, ZDP189, 1095, M390, M4, CPM D2, CPM 154, Duratech 20CV, dll.(Dikutip dari https://frids.wordpress.com/)

nah, dari data di atas itu saja saya cuman tau VG10 saja. 😐

Nah, kenapa suka pisau? Pisau hanya salah satu sarana saya untuk menjaga diri saja, kembali lagi, jika tidak digunakan, ya hanya sebuah benda mati tidak ada gunanya, jika digunakan kita tidak atau apa yang terjadi.

Knife is just a tools just like the others.

PISAU DAN TREND FOTO EVERYDAYCARRY

Oh ya! saya juga pengen bercerita perihal pisau dan trend fotografi, saya sendiri bukan ahli fotografi, punya kamerapun kamera biasa saja, tapi karena saya mengikuti fotografi pisau ini saya melihat sekarang bahwa pisau sendiri bisa menjadi model dalam sebuah fotografi. Apalagi ada Instagram, pisau bisa menjadi model yang cantik. Silahkan cek tagar #everydaycarry di Instagram. Di sana mereka posting apa yang mereka bawa sehari-hari, seperti alat pertahanan diri tactical tools(pisau, pistol, keling tactical pen dlsb), alat kerja, sepatu, alat jika keadaan darurat, bahkan sepatu-pun masuk dalam keterangan apaitu EveryDayCarry silahkan cek di wikipedia ini. Nah, dari sering memotret dan mengunggah di instagram, sayapun agak sedikit kecanduan perihal EveryDayCarry.

PERLUKAH MEMBAWA ALAT PERTAHANAN DIRI?

Ketika orang bertanya, perlukah seseorang membawa alat pertahanan diri ketika berada di luar rumah? Saya jawab PERLU SEKALI. Kenapa? Karena, menurut saya kita tidak tau apa yang akan terjadi di luar sana, setiap orang pasti berdoa supaya diberikan keselamatan ketika berada di luar rumah, perlindungan dari Tuhan tentu menjadi alat pertahanan diri paling utama, tetapi ketika Tuhan memberikan ‘cobaan’ kepada umat-Nya, tentunya umat-Nya akan berusaha.

Sebagai contoh adalah, ketika sedang berada di jalan, dan kemudian ada halangan dari seseorang yang mencoba mencelakakan kita, apa yang ada di sekitar kitapun bisa menjadi alat pertahanan diri. Contoh: Seorang wanita pulang kerja dan mengharuskan pulang larut malam karena sedang lembur, ketika di jalan dirinya mendapatkan cobaan dengan digoda orang, tentunya dirinya perlu alat pertahan diri yaitu semprotan merica(pepper spray) nah, lumayan juga kan kalau semprotan itu kena mata. Itulah salah satu contoh. Bahkan kunci sepeda motorpun sebenarnya bisa menjadi alat pertahanan diri, bisa sebagai alat untuk memukul jika kuncinya kita selipkan ke antara jari(bukan jempol lho ya) dan digunakan untuk memukul ulu hati.

Respect your knife, and it will serves you well

Nah, tak hanya itu saja, bahkan senterpun saya baru tau bisa sebagai alat pertahanan diri juga, dengan cara? senterin aja ke mata penyerang/pengganggu. Setidaknya cahaya senter itu akan sedikit membutakan mata pengganggu itu sehingga kita bisa berlari atau mengeluarkan alat yang lain untuk bertahan diri.

Nah, kira-kira begitulah sedikit cerita tentang pisau dan alat pertahanan diri lainya. Pisau hanya sebagai sarana saja, selebihnya, mau digunakan atau tidak itu tergantung diri kita. Jika memang perlu digunakan maka saya akan menggunakan, jika tidak, kenapa harus menarik gagang pisau dan membuka bilahnya.

KENAPA SIH PISAUNYA HARUS MAHAL?

You got what you pay.

Saya pernah dikatain istri, “pisau mahalmu bisa buat ngiris bawang gak?”, saya jawab, bisa saja. Kenapa gak bisa. Harus punya pisau mahal ya untuk EDC/Self Defense?

12821496_10201352976463829_2050508448906303335_n

Oh, gak juga, jika memang ada pisau lokal dengan design yang bagus dan bahan yang bagus pasti saya beli, seperti yang saya ceritakan di atas bahwa saya pernah ndandakne parang dari per mobil, bahkan saya pernah menyimpan pisau lipat dari Almarhum Om saya yang kebetulan dirinya punya pisau lipat buatan lokal(dan ketika pindahan rumah, pisau tersebut ilang).

Nah, jika memang nanti saya sudah menemukan pembuat pisau lokal dengan design yang saya suka dan memang memenuhi syarat kebutuhan saya.

PENUTUP

Nah, itulah sedikit cerita saya kenapa membawa pisau dan alat-alat yang menurut orang itu kok mbebayani(membahayakan) dan ribet sekali. Mendingan bawa pisau apa bawa pesugihan hayooo??? :)), trus apakah saya berhenti membeli pisau? Bisa jadi iya, bisa jadi tidak, semua tergantung bos(baca: istri 😐 ), dan ternyata tulisan panjang dan mbingungi juga ya. :)) selamat membaca dan bingung anyway~ ben.

Pada tanggal 16 April 2016, Telkomsel akhirnya secara resmi meluncurkan layanannya Telkomsel 4G Nation di Semarang. Semarang dipilih untuk peresmian karena pihak Telkomsel tahu bahwa Jawa Tengah adalah pengguna terbanyak dan terbesar di Indonesia.

Pada acara yang diselenggarakan di Gor Jatidiri Semarang tersebut Telkomsel mengundang Midnight Quickie, Afgan, Seventeen Band serta komika Dodit Mulyanto sebagai penghibur dan tak lupa datang juga Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk mengikuti acara peluncuran tersebut.

Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah mengatakan, “Kami konsisten untuk menghadirkan layanan 4G LTE yang terbesar dan terluas dengan kualitas yang sesuai harapan pelanggan. Berbagai upaya peningkatan kualitas terus kami lakukan, termasuk memperluas ketersediaan layanan, di mana kini Telkomsel 4G LTE sudah bisa dinikmati di 100 kota kabupaten di Indonesia.”

Sejauh ini Telkomsel telah menggelar lebih dari 4500 eNode B (BTS 4G) di berbagai wilayah di Indonesia dimana beberapa kota tambahan yang kini sudah dilayani Telkomsel 4G LTE dan dapat menikmati pengalaman digital mobile lifestyle terbaik di antaranya adalah Banda Aceh, Palembang, Semarang, Samarinda, dan Jayapura.

Ririek menekankan, bahwa Telkomsel serius membangun layanan 4G LTE di Indonesia guna memberikan pengalaman mobile digital lifestyle terbaik bagi pelanggan. Selama kuartal I 2016 (dibandingkan periode sama di 2015), layanan ini mendapatkan respon yang positif dari masyarakat dimana tingkat pertumbuhan penggunanya berlipat hingga 12 kali. Saat ini pun pelangan 4G di jaringan Telkomsel telah mencapai angka 5 juta, dan diharapkan hingga akhir tahun 2016 Telkomsel dapat melayani 12 juta pelanggan 4G LTE.

“Dalam menggelar jaringan 4G, kami selalu memastikan bahwa layanan ini dapat dinikmati sekitar 80 persen dari wilayah digelarnya jaringan, sehingga konektivitas pelanggan dengan layanan Telkomsel 4G LTE tetap terjaga pada saat beraktivitas baik di lokasi indoor maupun outdoor,” jelas Ririek.

Bahkan ketika tidak memperoleh sinyal 4G, pelanggan tetap dapat nyaman Internet-an dengan layanan 3G Telkomsel yang handal melalui seamless experience. Layanan hasil kolaborasi Telkomsel dengan Telkom berupa WiFi dengan teknologi 802.11n (setara 4G) ini berfungsi untuk melengkapi coverage Telkomsel 4G LTE, terutama yang berada di kawasan dalam ruangan.

Telkomsel 4G LTE juga merupakan layanan 4G pertama di Indonesia yang dilengkapi dengan International Roaming, dimana hal ini akan mendukung mobilitas pengguna layanan dari dan menuju Indonesia, karena Telkomsel telah bekerjasama dengan 42 mitra operator dari sekitar di 5 benua untuk International Roaming 4G LTE.

Untuk kenyamanan pelanggan agar dapat segera menikmati layanan 4G LTE, dalam melakukan migrasi SIM ke USIM (Simcard 4G), Telkomsel didukung oleh jaringan pelayanan (GraPARI) yang luas dan tersebar di berbagai lokasi di Indonesia. Selain itu terdapat juga inovasi self-migration yang memudahkan pelanggan migrasi dari SIM ke USIM tanpa harus datang ke GraPARI, hanya dengan membeli kartu perdana.

Bertepatan dengan peluncuran ini, untuk memperkenalkan layanan 4G LTE ke lebih banyak lagi masyarakat, Telkomsel juga mengadakan sales activity ‘Telkomsel 4G Nation’ antara tanggal 15-17 April 2016 di 23 kota, yaitu di Banda Aceh, Padang, Palembang, Lampung, Karawang, Jakarta, Bandung, Bekasi, Tasikmalaya, Banyumas, Solo, Semarang, Kediri, Jember, Pontianak, Samarinda, Palu, Kutai Kartanegara, Ambon, Sorong, Timika, Merauke, dan Jayapura.

Ekspedisi Langit Nusantara

Secara paralel, untuk membuktikan keunggulan layanan broadband Telkomsel di berbagai wilayah di Indonesia, Telkomsel melakukan penjelajahan Indonesia melalui Ekspedisi Langit Nusantara. Selama satu bulan penuh, mulai dari 14 April hingga 14 Mei 2016 Telkomsel akan menjelajahi Indonesia lewat sebuah program yang dinamakan Ekspedisi Langit Nusantara (Elang Nusa). Dalam ekspedisi ini Telkomsel mengajak masyarakat Indonesia untuk bersama-sama menguji kehandalan jaringan broadband ‘Terluas dan Tercepat’ Telkomsel, melalui video streaming yang akan disiarkan dari dua buah drone berjenis UAV (Unmanned Aerial Vehicle) berukuran besar yang melintasi lebih dari 50 kota di Indonesia.

Dalam ekspedisi Elang Nusa ini dua buah drone berukuran besar dengan bentangan sayap hingga 2,5 m akan diterbangkan secara bersamaan, menempuh Jalur Barat (Elang Barat) dan Jalur Timur (Elang Timur) Indonesia sepanjang 8500 km. Selama program, kedua drone akan merekam video yang kemudian diunggah melalui jaringan terbaik Telkomsel ke www.telkomsel.com/elangnusa, sehingga masyarakat dapat mengikuti perjalanan secara lengkap, baik melalui live streaming maupun recorded. #ADV

Beberapa hari lalu, hape Android saya LG G4 mengalami error, saya kira cuman errror biasa(android biasaaa~) ternyata setelah saya cobat-cabut batre ternyata LG G4 saya mengalami bootloop, padahal saya sendiri tidak pernah mencoba nge-root HP apalagi pake custom room. Apa itu bootloop? silahkan cari di sini.

Nah, setelah saya cari-cari info cara penyembuhan bootloop pada LG G4 saya, ternyata saya menemukan bahwa LG G4 saya memang harus diganti mesin. Pihak LG sendiri dikabarkan mengeluarkan statement resmi bahwa memang ada kesalahan pada hardware untuk LG G4 keluaran awal. Meski saat itu saya berusaha mencari cara bagaimana cara memperbaiki gawai tanpa menyerahkan ke service center, karena pengalaman yang sudah-sudah, ketika barang diserahkan ke service center akan berbelit-belit sekali prosedurnya.

Saya pun tanya kepada rekan saya yang kebetulan punya LG G4 juga, dan sarannya adalah memang gawai saya ini harus diserahkan kepada service center untuk diganti mesinnya. Tapi sayangnya waktu hape saya rusak posisi saya sedang tidak bersama nota kwitansi serta kartu garansinya. Setelah saya membawa kartu garansi dan nota kwitansi pembelian LG G4 saya, sayapun akhirnya memberanikan diri untuk ke service center yang ada di Semarang, kebetulan memang posisi saya sekarang tinggal di Semarang, untuk melihat Service Center LG bisa dicek di sini

Setelah saya menyerahkan gawai saya ke pihak CS LG di Semarang, saya menunggu LG G4 saya jadi, tidak lama ternyata, kira-kira hanya 30 menit-45 menit saja hape LG G4 saya sudah jadi dan kembali normal. Dan memang, LG G4 saya memang harus diganti mesinnya. Saya tanya kepada mbak-mbak CS-nya, apakah garansinya diperpanjang atau tidak, ternyata jawabannya TIDAK. Padahal LG G4 teman saya yang problemnya sama yaitu bootloop juga garansinya diperpanjang 3 bulan. Duh, ya wis lah kalau gitu, ndakpapa, lagian saya sudah cukup puas dengan pelayanan dari CS LG di Semarang, meski tempatnya sempit sekali dan kurang nyaman buat saya.

Jadi, cara memperbaiki LG G4 yang bootloop adalah:

Dibalikin ke Service Center-nya :)) karena memang penyakit LG G4 keluaran awal pada mesin seri 505 ke atas kebetulan nomer serie mesin LG G4 saya 506. Mau mecicil diutak atik pun ndak bakal bisa karena memang kudu diganti mesin. Jadi, sebelum membawa HP LG G4-nya ke service center jangan lupa untuk membawa:

  1. KTP
  2. Nota pembelian
  3. Kartu Garansi

Setelah semua syarat dibawa, tunggu saja. Nanti juga diganti mesin baru dan LG G4 kesayangan akan kembali lagi berfungsi secara normal. Dan jangan lupa untuk mengecek kapan masa berlaku garansi LG G4 kesayangannya, kalau sudah lebih dari 1 taon ya ndak bakal dapat gratis ganti mesin. Tapi ndak usah kawatir, karena setau saya LG G4 yang beredar di Indonesia semua keluaran Mei 2015.

 

judul postingan blog kali ini sih terinspirasi kemarin sore ketika sedang datang ke sebuah mall untuk membersihkan sepatu. ya, harap maklum, cuaca yang hampir tiap hari hujan dan kemana-mana pakai sepeda motor yang pastinya sepatunya pun ikut kotor dan basah. nah, kalau basah dan kotor mana enak dipakai. tentunya kalau kotor penampilan saya tidak jadi setil dan mbois to~

oke, karena saya waktu itu ngalamun sambil nunggu sepatu selesai dibersihkan, saya kemudian agak sedikit tersadar, bahwa bisnisan jasa membersihkan sepatu itu bisnis yang sebenarnya sepele, tapi ternyata ada yang menekuni dan bisa menjadikannya ladang uang. ndak tanggung-tanggung, sebuah brand jasa ini membuka franchise-nya senilai lebih kurang 40 jutaan, kalau saya tidak salah dengar dari pegawainya.

nah, ndak kebayang to? bisnis ginian bisa sampe berani buka franchise. jadi inget, dulu ketika awal jadi mahasiswa di jogja, sampai heran dengan teman yang menyucikan bajunya di jasa pencucian, padahal dicuci sendiri bisa. karena saya waktu itu masih belum kepikiran mengeluarkan uang untuk mencucikan baju kotor saya, karena uang saku waktu jadi mahasiswa sangat mempet, selama masih bisa saya kerjakan sendiri kenapa harus keluar uang. trus jasa pencucian sepeda motor juga yang waktu itu belum begitu menjamur juga membuat saya sedikit heran. padahal membersihkan motor kesayangan itu kalau ndak hati-hati juga bakal repot. mana cet, aksesoris dll mahal, gimana kalau rusak?

setelah sekian lama saya baru tersadar bahwa bisnis jasa ini sangat menggiurkan sekali, bahkan ketika jaman semakin maju mungkin orang semakin sibuk dengan urusannya. jadi inget ketika memutuskan untuk membuka usaha tiketing yang marketnya adalah orang yang males mbuka tutup aplikasi pembelian tiket pesawat/booking hotel, padahal sudah cukup banyak aplikasi-aplikasi pemesanan tiket yang memudahkan pelanggan untuk membeli. ya masih aja pada males dan ndak mau repot.

sekali lagi, saya garis bawahi bahwa bisnis jasa yang memanfaatkan orang gak mau repot ini pun jadi target para pebisnis untuk mendulang pundi-pundi uang. jadi inget ada jasa ojek online menyediakan jasa untuk membelikan lauk pauk makan, kalau saya pikir, mung mak kluwer beli lawuh lho, kok ya angel-angelan. tapi gimana lagi, mungkin orang semakin sibuk dengan kerjaannya sehingga badan sudah capek dan tidak ada waktu lagi untuk sekedar meluangkan waktu hanya 10 menitan membeli lauk.bahkan perusahaan tersebut sudah menyediakan jasa membersihkan rumah segala lho. apa ndak luar biasa sekali bos-nya ini. ya, lagi-lagi saya nggumun(kagum) dengan orang yang paham akan celah bisnis ini.

di saat semua serba cepat, jaman semakin maju, untuk hal pritilan-pritilan ini kadang luput dari pandangan kita dan mungkin bisa jadi ladang uang atau rejeki yang cukup menggiurkan untuk orang yang tau peluang. jadi, bagaimana? ada ide jasa yang sekiranya akan menggiurkan di tahun ini? daripada tenaga capek, kalau ada rejeki kenapa gak bayar orang aja. seperti kata almarhum gusdur. gitu aja kok repot.

Fenix E12

Hai, pembaca setia masjun.com kali ini masjun ingin posting tentang pengalaman menggunakan senter Fenix E12. *macak viewer blog’e akeh*

Fenix E12

Fenix E12

Jadi gini, ini pengalaman saya menggunakan Senter Fenix E12. Senter yang cukup sangar menurut saya. Kenapa sangar? Karena ini senter yang imut tapi cukup bisa diandalkan, sebelum saya memutuskan untuk membeli senter ini, saya yang masih gak paham tentang senter kemudian saya tanya kepada pakar senter dan tukang ngeracun babagan EDC(Everyday Carry) Indonesia yang sedang konsen KPR, beliau adalah mas @sandalian, kenapa saya bilang pakar, karena nama putrinya adalah Lumen, tau sendiri Lumen adalah satuan Cahaya, ya wis saya tanya kepada beliau.

Saya sendiri bingung, karena sudah cukup lama tanya kira-kira senter yang cocok buat saya seperti apa, karena saya berfikir yang pertama itu kudu yang baik tidak perlu terbaik(karena terbaik harganya mahal) 😐 akhirnya lewat banyak pertimbangan saya direkomendasikan membeli Senter Fenix E12. Setelah saya cek via youtube dan lain-lain, memang sepertinya saya memberanikan untuk membeli senter Fenix E12 ini.

Kenapa? Karena gini:

  1. Senter Fenix E12 ini cukup kecil dan tidak terlalu memakan banyak tempat jika dimasukan ke dalam tas yang sehari-hari saya bawa. Bisa jadi bagian dari EDC(everyday carry). Jadi tidak terlalu banyak memakan tempat. apalagi tampilannya yang cukup asik. ganteng lah. mirip yang punya blog ini. *dikamplengi*
  2. Senter Fenix E12 ini tidak memerlukan batre yang susah dicari, cukup pakai batre AA saja yang bisa dibeli di mini market sekitar anda. Ada beberapa senter menggunakan batre yang khusus. Dan kudu beli charger buat batre. Menurut saya ini ribet. 😐
  3. Senter Fenix E12 harganya juga masih masuk akal untuk ukuran barang buatan luar negeri. Dan kualitasnya juga bagus. Meski beberapa orang bilang bahwa ini mahal. Tapi mahal kalau bagus ya kenapa enggak?
  4. Senter Fenix E12 ini anti air. Ya, memang saya tidak memerlukan untuk selam malam hari apalagi hujan-hujan malam dolanan senter to? Karena saya kemana-mana bawa backpack/tas slempang kecil, jadi setiap kali kehujanan njagani(berjaga-jaga) siapa tau nanti air masuk tas dan basah. Percuma kalau beli barang yang nanti rusak kalau kena hujan.
  5. Senter Fenix E12 ini mempunyai daya sekitar 130 Lumens. Jadi kira-kira bisa lah menerangi hatimu yang gelap *halah*, menerangi dengan jarak bisa sampai 20 metaran bahkan bisa lebih dari 30 meter.
  6. Senter Fenix E12 ini cukup menggantikan peran senter dari hape. 😐
  7. Senter Fenix E12 ini punya 3 mode cahaya. Low – 8 Lumens(40 jam), Medium – 50 lumens( 6 jam 30 menit) dan High – 130 Lumens ( 1 jam 30 menit)

versi resmi dari Fenix Store bisa dibaca di sini

Jadi, setelah pemakaian lebih kurang 1 mingguan ini, saya cukup puas dengan performa senter pertama saya ini. Dengan harga yang waktu itu saya tebus di sebuah E-commerce di Indonesia (daripada beli di luar negeri) saya beli sekitar Rp 365.000(belum ongkos kirim). Dan performa yang mantab. Saya cukup puas. Ini penampakannya Fenix E12:

Fenix E12

Penampakan Fenix E12. Starter-nya sih cuman dapat tali, senter dan batre. (pic: pimamanggala )

Fenix E12

Ukuran Fenix E12 di telapak tangan.

Fenix E12

Cahaya Fenix E12 dengan Level Maksimum kira-kira jaraknya 20 meteran

Fenix E12

Jarak Cahaya Fenix E12 kira-kira 30 meteran

 

Nah, sekian rifiu Senter Fenix E12 dari saya. Karena ini adalah rifiu di blog pertama saya, semoga di lain waktu ada rejeki jadi bisa kasih rifiu-rifiu yang lain. Jika ada salah, mohon maaf, karena kesempuraan itu hanya milik Allah, dan cowok itu selalu salah.

 

Sebentar lagi tahun 2015 akan segera berakhir, banyak cerita menyenangkan dan menyedihkan. Sungguh komplit lah. Dibilang tahun produktif juga iya, dibilang tidak produktif juga iya. #pitikih. Ya, pokokmen gitu lah.

Mendapatkan pekerjaan yang menyenangkan kemudian memutuskan untuk berhenti dan mencoba usaha sendiri, keriaan yang menyenangkan karena mendapatkan ilmu baru. Kehilangan keriaan karena salah satu sahabat dipanggil Sang Pemilik Hidup duluan di tahun yang sama 2015 juga. Di tahun 2015 memutuskan melakukan tindakan yang menurut saya tindakan terberani dalam kehidupan saya. hehe.

Semoga di tahun 2016 nanti akan menjadi tahun yang lebih owsem dari tahun 2015. Semoga teman-teman juga begitu. Menjadi tahun yang baik, dan harapannya dikabulan dan dimudahkan semuanya.

Di lini masa sosial media saya hari ini 22 Desember 2015 ramai sekali memperingati Hari Ibu. Senang rasanya ternyata hari Ibu kali ini ramai sekali, semoga benar bahwa mereka post di sosial media seperti yang mereka lakukan di hari hari biasanya, bukan hanya ‘ikut meramaikan’ saja. Rayakanlah hari istimewa ini dengan caramu sendiri. Mau di socmed, mau ndak di socmed, monggo.

Saya juga tadi merayakan Hari Ibu dengan Ibu saya, hanya cium tangan ketika berangkat mengurus kerjaan, dah, itu saja sih tadi cara merayakan hari ibu versi saya. Ibu saya saat ini sedang dalam berkebutuhan khusus. Pada tahun 2009, Beliau mengalami kecelakaan tunggal ketika hendak menuju sekolahan untuk mengajar.

Dalam keterbatasan beliau yang saat ini kehilangan satu pengelihatannya pun tidak menyurutkan semangat beliau untuk tetap mengajar di sebuah sekolah menengah atas di kota Solo. Pernah kami(saya, adik, bapak) bilang ke Ibu, gimana kalau di rumah saja, pensiun dini, tapi Ibu bersikeras menolak, karena dengan keterbatasannya beliau masih sanggup. Untungnya sekolahannya cukup mendukung apa yang jadi keterbatasan Ibu saya.

Pernah pada suatu hari, ibu mengajar pada kelas di atas, karena kondisi ibu saya yang cukup berisi(baca: gemuk), ibu pun naik ke tangga, dan menurut bapak ibu jatuh sehingga protesa(mata palsunya) lepas. Jujur saja waktu itu saya lemas dengar kabar itu, ketika itu saya yang masih di Jogja rasanya lemas, sedih dan pengen pulang, tapi dilarang sama bapak. Ibu pun seperti kehilangan semangat, karena dia merasa dirinya bukan dirinya yang dulu.

Ibu saya dulu selalu ke mana-mana sendiri, termasuk wanita yang bakoh. Naik motor dari Vespa PTS 80 hadiah pernikahan Almarhum Eyang, hingga sudah saatnya Vespa itu diisirahatkan diganti dengan Suzuki Shogunnya. Keluar kota dengan motor, pergi hujan hujan pun dengan motor, bahkan ketika Bapak waktu itu disekolahkan di luar negeri pun, kami berdua(saya dan adik) sekali telon(boncengan bertiga) dengan ibu saya.

Kamipun membesarkan hati ibu yang saat itu merasa hancur, karena dirinya merasa bukan wanita yang ‘utuh’ atau ‘sempurna’ di mata anak dan suaminya, padahal kamipun tidak menganggap itu. Semua masih melihat dirinya masih menjadi wanita yang sama. Wanita yang kemana-mana dulu bisa sendiri ketika suami pergi dinas luar kota bahkan luar negeri. Bisa melakukan hal yang di mana saat ini semua wanita belum tentu bisa melakukan banyak hal ketika ditinggal suaminya sendirian mengurus semua urusan di rumah sendiri. Satu hal yang saya dan keluarga masih jaga adalah api semangat beliau mengajar untuk murid-muridnya. Itu kata-kata yang kami berikan ke beliau ketika beliau sedang down. Naluri alami seorang pengajar yang tulus, meski dengan kekurangannya beliau masih mau dan mampu untuk mengajar.

Saya juga merasa berterimakasih kepada tempat ibu saya mengajar, di sana ibu saya diberikan fasilitas yang cukup baik untuk ibu saya. Bukan karena kekurangannya beliau diberikan keistimewaan, bukan. Karena menurut seorang kawan yang saya kenal di RBI(Rumah Blogger Indonesia) Mas Jaka Ballung yang kebetulan dirinya adalah penyandang difabilitas, bahwa “Semua Orang Adalah Calon Penyandang Difabilitas, Cuman Berat atau Tidaknya Belum Saatnya”. Saat itu saya tau bahwa kita memang ‘calon’ penyandang difabilitas, ntah karena sakit, ntah karena memang sudah dari lahir berkebutuhan khusus. Saya bersyukur di mana tempat ibu saya mengabdikan semua ilmunya dan membagikannya kepada murid-muridnya dengan keterbatasan yang ada lingkungan tempat dirinya mengajar mendukung itu. Saya berfikir, apakah semua tempat kerja sudah punya fasilitas untuk difabilitas? apakah sudah cukup ramah untuk orang yang berkebutuhan khusus? apakah lingkungan kerjamu juga masih atau mau mempekerjakan penyandang difabilitas? Apakah kotamu sudah ramah dengan penyandang difabelitas? cobalah kalian tengok.

Mulai dari kawan kawan Yayasan Talenta yang ada di RBI itu saya belajar banyak bahwa bagaimana memperlakukan seorang penyandang Difabilitas. Bukan mengistimewakan, tapi biarkan mereka melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan, dalam hal ini panggilan jiwanya. Mas Jaka Ballung ini salah satu penyandang difabilitas yang mempunyai karya yang luar biasa. Beliau ini membuat design design yang cukup sangar dengan microsoft words! ini adalah laman FB Mas Jaka Ballung KLIK INI.

Ya, dari contoh kedua itu, saya melihat bahwa seseorang yang berkebutuhan khususpun sanggup berkarya, tidak perlu merasa dirinya diistimewakan, bahkan ketika kita merasa diri kita utuh, kita pun merasa terbatas, tidak dengan mereka. Ibu saya contohnya, yang tiap hari saya temui di rumah. Memang beliau sudah tidak bisa cak-cek lagi, sudah tidak bisa memasak lagi(saya rindu masakanmu), sudah tidak bisa boncengin kita ke mana mana lagi, bahkan di mana adik saya melahirkan di mana semua ibu membimbing anaknya pun, beliau sudah tidak sanggup. Sedih rasanya. Tapi sayapun menghilangkan kesedihan itu dengan melihat bagaimana beliau bercerita kelucuan cucunya meski tidak ikut memandikan ketika kecil. Mendengar bagaimana dirinya bertemu dengan murid-murid yang ‘aneh-aneh’ dan lucu-lucu dan menceritakan ke kami ketika nonton dangdut di TV. Itu cukup membuat kami sekeluarga senang, bahagia.

Buat yang sudah tidak memiliki Ibu pun, selamat merayakan Hari Ibu, karena Ibu hanya tidak ada di depan mata, tetap ada di dalam hati diri kita masing-masing. Tetaplah merayakan hari ibu. Jangan pernah bersedih. Sayang seorang ibu itu abadi, bahkan doa seorang ibu itu langsung ke Tuhan tanpa perantara malaikat. Bahkan ketika Ibu sudah tidak ada di sisi kita, doa-doanya semasa hidup tetaplah abadi.

Di hari ini, saya ucapkan selamat hari ibu, dengan keterbatasanmu, kamu adalah wanita yang selalu hebat di mata anak-anakmu. Sehat selalu. Selalu berbahagialah! Selamat merayakan buat semuaaa! Hari Ibu ini hanya di tanggalan saja. Sebenarnya hari ibu adalah tiap hari. Dan Hari Bapak kapan? 🙁

 

Sudah lama ndak postang-posting di blog sendiri, pengen cerita saja kejadian unik ketika makan. Setelah nonton ngayogjazz, keesokan harinya saya pengen melakukan ritual rutin pagi ketika main ke Jogja, makan ke Soto Pak Syamsul, sambil mengejar waktu karena bangun kesiangan saya ngebut dari tempat sodara saya. Sesampainya di Soto Pak Syamsul Pasar Kolombo jebulnya saya kecelik. Pak Syamsul tutup sodara-sodara!. Bingung cari makan akhirnya keputusan beli Lotek di sekitaran Jalan Kaliurang.

Sampainya di warung lotek itu saya pesan dengan exstra bakwan. Makan selesai, saya mimik es teh sambi udat udut bentaran. Ada pemandangan menarik di depan saya, sekeluarga sedang makan di warung itu, bukan karena mereka makan sekelarga bareng di sana, tapi semeja pada makan sambil pegang HP mereka masing-masing. Tangan kanan pegang sendok sambil makan, tangan kiri pegang hape, mereka saling sibuk dengan kegiatan masing-masing yaitu nyendok makanan, memasukan makanan ke mulut tapi mata tidak melihat piring. Hebat ya!

menghilangnya garpu

menghilangnya garpu(wajahnya saya samarkan)

Saya pernah ngetwit seperti itu di atas, memang benar, pada akhirnya garpu mungkin akan hilang dari peralatan makan –Memang tidak semua makanan bisa dinikmati dengan menggunakan sendok garpu– Saya sendiri bukan orang yang benar-benar lepas dari HP, tapi saya berusaha untuk tidak memegang hape ketika saya makan, apalagi ketika makan bereng keluarga/teman dekat. Karena menurut saya, meja makan itu tempat yang ‘sakral’, karena di sana kita bisa bercerita, tahu kondisi keluarga masing-masing dll.

Bukankah akan lebih menyenangkan ketika kita berkumpul di meja makan kita bisa bercerita satu sama lain, bukan malah saling menunduk tak pernah bertegur sapa dengan orang yang satu meja dengan kita. Sebuah alat komunikasi yang membuat kita semakin dekat dengan orang jauh malah akhirnya membuat kita semakin jauh dengan orang yang ada di dekat kita.

 

 

Jangan sampai karena kesibukan dengan gawai kita akhirnya melupakan siapa yang sedang berada di depan kita, kita bisa tau cerita dan kondisi orang terjauh, tetapi kita akan kehilangan cerita apa yang terjadi dengan orang yang satu meja makan, satu tempat nongkrong, satu sofa bahkan nanti dengan orang yagn satu kasur(pasangan) dengan kita. Jangan sampai kita nanti menyesal karena sebenarnya ada hal yang ingin diceritakan ke kita malah kita sendiri terlalu sibuk dengan hal yang lain. Kalau sudah merasa tidak nyaman dengan orang yang berada dekat dengan kita, alangkah baiknya pergi meninggalkan saja tempat itu kemudian kembali lagi ketika semua sudah bisa diajak ngobrol atau kembali berkumpul ketika diri kita sudah selesai dengan kesibukan dengan gawai kita.

foto: @goenrock

Beberapa hari ini di social media rame pemberitaan tentang pengemudi Harley yang ugal-ugalan ketika berkendara di jalanan, dan hari ini tadi, bertepatan dengan 70 Tahun kemerdekaan Negara Indonesia, social media juga rame tentang bagaimana seorang Wapres tidak hormat kepada Sang Saka Merah Putih ketika upacara bendera di Istana Negara. Hehe. Rame ya, Negaraku?

foto: @goenrock

Bendera Merah Putih. foto: @goenrock

 

Saya tidak mau membahas tentang kedua masalah itu di blog saya, saya cuman pengen mengucapkan selamat Dirgahayu Indonesia, negara yang sangat aku bela, ya meski di sana sini masih carut-marut dan acak adul, tapi ntah kenapa saya sebagai orang yang lahir di Indonesia ini (ada yang lebih suka dengan sebutan Nusantara) saya masih cinta dan sayang sekali kepada negara ini.

Dengan keaneka ragaman yang ada di negara ini pun tak membuat saya membenci satu suku, satu agama, satu keyakinan dlsb, meski di media sosial saya banyak sekali teman-teman yang sebenarnya pengen mengeluarkan uneg-uneg tentang ketidak setujuan dengan salah satu pendapat, bahkan membenci sebuah kepercayaan yang ada. Tapi biarlah, mereka toh mencoba berekpresi sendiri. Bahkan sayapun tidak akan mencoba membenci individu tersebut. Semoga.

Saya pernah membaca sebuah artikel yang di-share teman ke Facebook, bahwa negara Amerika pun sebenarnya takut dan segan dengan Indonesia. Ada benarnya juga. Saya pun akhirnya membayangkan jika memang nanti Indonesia diserang oleh negara luar, saya masih yakin bahwa semua rakyat yang saling membenci itu akhirnya bersatu padu untuk membela negara yang mereka sayangi ini. semoga saja begitu. Akan sangat mengerikannya jika nanti kita yang saling membenci dan beradu pendapat konyol itu akhirnya malah tidak saling membantu saat negara ini membutuhkan bantuannya.

Tapi ketakutan saya pun agak sedikit pudar ketika saya membayangkan saat ada salah satu putra terbaik bangsa membela negara kita di cabang olah raga yang sedang bertanding di luar negeri/sedang melawan negara lain, kita bakal membela mati-matian. Bahkan yang awalnya berbeda kubu(fans klub) pun jadi satu untuk membela sebuah warna dan simbol yang sangat sakral yang ada di dada meraka.

Jika boleh mengutip salah satu lirik dari lagu Band Koil – Sistem Kepemilikan  –

“ini negara bodoh yang sangat aku bela layaknya kekasih yang tercinta”

ya, siapapun pasti akan membela mati-matian negara ini, apapun kondisi carut-marut acak adul yang ada di negara saya sekarang, saya masih berharap negara ini akan menjadi negara yang besar dan hebat suatu saat nanti. Ntah 10 tahun lagi? 20 tahun lagi? 30 tahun lagi? atau 100 tahun lagi saya tidak tahu kapan,. Bahkan sampai sekarang saya masih berperinsip Pilihanmu, Sandang Panganmu. Tapi tak ada salahnya jika saya bermimpi bahwa negara ini akan menjadi besar dan hebat, meski banyak perbedaan di dalamnya.

 

MERDEKA! DIRGAHAYU INDONESIA!

kompeniprofile

Seperti biasa daripada dikira saya nganggur oleh tetangga, saya memutuskan untuk keliling mencari-cari batik untuk saya setorkan ke rekan saya yang punya usaha bareng di negara seberang sana.

Akhirnya saya memutuskan untuk main ke BTC Solo (Beteng Trade Centre), ini sebenarnya bukan kali pertama saya main ke BTC, karena biasanya saya selalu diajak sodara untuk ke sini, dan kemarin itu saya main ke BTC saya memang ada keperluan mengumpulkan data untuk saya serahkan ke rekan saya itu. Karena memang tugas saya seperti itu.

Nah, setelah keliling-keliling saya pun menemukan sebuah kios yang menurut saya sangat keren! karena di kios kecil itu banyak kain warrna warni yang menurut insting saya ini bakal bagus di jual baik sebagai barang jadi atau dijual hanya kain potongan saja.

Akhirnya, saya pun masuk ke kios itu, saya ngobrol dengan penjaganya, saya bertanya seperti halnya pembeli di pasar, berapa harga, kainnya apa, cara pembuatannya seperti apa, minumum beli berapa dll. Setelah saya foto-foto, sayapun diberi kartu nama oleh penjaga kios tersebut untuk menghubungi pemiliknya. Sayapun pamitan setelah memasukan kartu nama itu ke dalam dompet lusuh saya.

Pada sore harinya saya pun melakukan ritual nongkrong di sebuah warung kopi langganan saya, saya pun membuka laptop untuk mengirim foto-foto kepada rekan saya tersebut. Tak lama saya pun mengirimkan e-mail kepada nama yang tercantum pada kartu nama tersebut untuk melakukan janjian ketemuan. Kami pun saling berbalas email dan akhirnya memberikan nomer pribadi masing-masing untuk melakukan janjian ngobrol-ngobrol siapa tahu ada yang bisa dikerjakan bersama.

Pada keesokan harinya saya pun SMS kepada pemilik kios batik tersebut, ternyata beliau sedang berada di workshop yang ternyata letaknya tidak jauh dari rumah saya, janjianpun saya lakukan setelah jam 13:00 WIB.

Setelah jam 13:00 WIB saya pun segera nyetater motor kesayangan saya menuju pabrik bapak tersebut. Kamipun akhirnya ngobrol dan saling mengenalkan diri masing-masing. Ternyata bapak tersebut juga baru saja membuat pabrik dan kantor di daerah tersebut, kira-kira 2 tahun bapak tersebut membuatnya. Sedangkan dirinya bukan pemain baru di dunia perbatikan kota Surakarta. Meskipun dirinya bukan pemilik tetapi dirinya memberanikan diri untuk membuat pabrik sendiri dengan uang yang sudah dikumpulkannya sejak 20 tahunan lebih sebagai seorang marketing di salah satu merk batik yang cukup terkenal di Surakarta.

Bersama satu rekannya dirinya utang bank, menjual beberapa asetnya untuk mencoba berdiri sendiri di usaha yang sudah cukup lama ditekuninya ini. Akhirnya obrolan sana sini pun kami lakukan bertiga di ruang meetingnya. Saya singkat saja lah ya- , akhirnya saya pun menunjukan website bowsandsquares yang bergerak di bidang garment batik.

 

A(Saya): Ini Pak, website saya. Saya menunjukan ini karena saya nanti dikira tipu-tipu, Pak. Haha

B:(Pengusaha): Wah! bagus, Mas produknya. Web-nya juga bagus. Iya, saya percaya kok, Sama Mas Iwan. Kira-kira kalau bikin web begini habis berapa ya? Mbok saya dibikinin. Biar nanti saya rembugan sama Pak C(rekannya yang sekaligus bagian Accounting/Finance-nya).

A: Ndak banyak kok Pak, ndak mahal. Kalau mau keren banget ya cukup lumayan. Tapi kalau sekelas bapak gini ya pasti bisa lah. (Canda saya kepada Bapak B)

B: Ah, iso wae mbribik’e ben gawe. Hahaha.. Pinter juga cara dodolannya, bisa sekaligus jualan jasa web sama jualan batik!

A: Wah, ya ndak pak. Saya ya cuman gini iseng kok. Kalau ada yang mau saya buatin semampu saya saja. Nanti saya bantu kerjain sama temen-temen saya.

B: Hmm… tapi kok aku takut ya buat web?! Ragu-ragu.

A: Lha kenapa, Pak?

B: Takut design saya dipakai orang lain.

A: “Pake watermark kan bisa pak, aman.”, ujar saya.

B:” Jadi gini mas, saya ceritain sebelumnya. Saya udah sangat lama sekali pengen buat web/company profile buat usaha saya ini, saya juga pengen di kartu nama ini ada tulisan web perusahaan ini. Saya selama ini ndak pernah paham online-onlinenan kayak anak muda sekarang ini. Tapi yang saya takutkan adalah, ketika saya membuat web lalu produk saya di-copy sama orang saya kan repot akhirnya, karena produk yang saya jual ini adalah produk pesanan khusus expor saja, kalau barang yang mas iwan liat di BTC itu sebenarnya barang sisa saja, jadi kalau mau saya buat lagi ndak mungkin dan memang cuman menghabiskan stok pesanan daripada nglumpuk di gudang. Untuk lokalan memang saya belum ada rencana ke sana, masih akan memikirkannya dulu kalau nanti sudah agak sedikit selo. Karena saya pernah ada orang yang ngajak kerjasama dengan saya, seperti mas Iwan ini, ada perusahaan di luar sana, kemudian ada salah satu dari design saya dicomot dan ada design orang lain di sana, kemudian saya dimarah-marahin sama yang punya design itu. Wah, repot saya Mas! Waktu itu memang kesalahan saya sih, saya agak sedikit lengah dengan hal itu, padahal orang yang mencomot design saya itu ndak seberapa pesannya, ndak sama kayak yang buat design itu, bisa ratusan yard waktu itu. Jadi ya saya kok akhirnya serba salah sendiri sekarang.”

A:”woh, ngaten, Njih Pak?”

B:”Iya, saya sebenarnya juga pengen banget, tapi ya itu tadi. Saya bingung juga akhirnya. Coba nanti saya pikirkan lagi, lagian kalau saya bikin web pun saya juga agak susah ngurusnya sendiri.”

A:”Saya juga bisa kok nderek Bapak jadi pegawai sini” Ujar saya sambil becanda.

B:” Waaaaaa… hahahaha. Nanti blonjone Mas Iwan iso akeh yo?! ahahaha” jawab Bapak tersebut.

A:”Hahahaha.. Lha pripun Pak? Kahanan menika!”

B:”Santai saja Mas, saya juga lagi belajar berdiri sendiri, Mas Iwan juga lagi belajar juga. Kita lagi sama-sama belajar juga. Saya kok malah jadi mumet dan bingung ya, gara-gara mas Iwan ini!”

A:”Wah, kok dalem to Pak? Saya kan niat saya ingin kerjasama ke batik saja, bukan ke hal yang lain.”

B:”Iya, tapi saya malah matur nuwun sudah diberikan bayangan dan disadarke. Nanti saya rembugan lagi. Lagian saya pikir kalau akhirnya saya bikin web  yang pakai design khusus barang pesanan expor dan saya tidak pasang barang buatan lokal saya, saya nanti yang repot. Padahal saya ini ndak punya design untuk lokal, semua sudah saya buat sesuai pesanan, meskipun di atas kertas saya tidak ada perjanjian tertulis bahwa saya tidak boleh menjualkan lagi tetapi saya ini wong pekewuh, saya bisnisan gini atas dasar trust mas, kalau jadi rejeki seperti sekarang saya punya pabrik produksi sendiri itu sebuah pencapaian yang buat saya sendiri saya masih tidak percaya itu.”

A:”Lho, waktu dimaki-maki itu seperti apa Pak?”

B:”Wah, remuk saya dientekne di telpun, kebetulan saya juga pernah ada cerita waktu teman saya di Houston sana, bahwa pernah ada makelar yang ambil barang dari sebuah pabrik di kota ini juga, dan di Houston sana kebetulan ada semacam Bazzar. Nah, pas Bazzar dibuka jebulnya isinya barangnya sama semua. Opo ra ndagel banget itu?! Dan semua ambilnya sama! Dari pabrik A, dan akhirnya mung dagelan itu, semua saling menghancurkan harga, semua ndak masuk akal. Saya juga ndak mau kalau nanti harga dan hasil saya ini jadi barang murahan yang nantinya orang itu lihatnya seperti ndak ada kesan mahalnya. Saya ndak punya kontrol atas barang saya sendiri akhirnya. Apalagi kalau sampai perusahaan China njiplak, wah, remuk saya, saya pernah ada kejadian ada orang pura-pura beli, tapi ternyata dibeli sama sebuah pabrik kain di Hongkong sana. Kemudian saya stop! udah ndak mau lagi, untungnya saya hanya kirim sample 5 saja. Kalau saya sampe kehilangan kepercayaan itu trus saya kukut kan kasihan pegawai saya mas”

A:”Wah, bener juga njih! Akhirnya jadi serba salah juga. Pengennya buat web untuk promo produk tapi kok kalau ada yang njiplak nanti repot.”

B:”Lha ya, gara-gara njenangan ini tadi! Hahahahaha. Lagian saya juga melihat semua pabrik batik besar di Solo rata-rata ndak punya web, kalau ada web dengan tampilan apik, mereka sudah punya produk lokalan sendiri, kesalahan saya juga saya belum punya produk lokal, dan mungkin nanti saya kalau diparingi rejeki saya mau buat, dan malah para malekar-makelar itu web-nya bagus-bagus” Ujarnya sambil menyebutkan beberapa pabrik batik (* yang memang setelah saya cek sendiri tidak ada webnya, kalaupun ada tidak ada penjelasan atau pemasangan produk mereka, padahal kalau dibilang gedhe, ada pabrik yang gueeedhe banget yang webnya hanya sederhana ndak ada isinya sama sekali, semacam cuman beli domain tok)

A:”Wah, njih leres Pak. Anu, nyuwun ngapunten, berhubung waktu sudah sore, saya ijin pamit.”

B:”Ooo.. Ya, wis sore ternyata ya. Baiklah, matur nuwun, semoga nanti ada yang bisa kita kerjakan bareng ya Mas. Kita ngimpi babu bareng. hahahaa. ”

——

 

Akhirnya saya pun pamit dari obrolan yang menyenangkan itu, saya akhirnya juga mengerti, kenapa kok pabrik-pabrik besar batik rata-rata tidak punya web sendiri. Karena takut dijiplak produknya! , wah sayang banget, karena sebenarnya kalau dibilang dari segi promo kan lebih baik punya web sendiri, tapi kalau punya web nanti dijiplak. Memang serba salah akhirnya. Begitulah pengalaman saya hari ini, mendapat banyak ilmu dari bapak B itu. Matur nuwun sudah selo mbaca tulisan panjang saya. Kalau bingung mohon maaf, karena saya ya gini. *sun kening*.