1

Ibu, Keterbatasanmu, Kelebihanmu

Di lini masa sosial media saya hari ini 22 Desember 2015 ramai sekali memperingati Hari Ibu. Senang rasanya ternyata hari Ibu kali ini ramai sekali, semoga benar bahwa mereka post di sosial media seperti yang mereka lakukan di hari hari biasanya, bukan hanya ‘ikut meramaikan’ saja. Rayakanlah hari istimewa ini dengan caramu sendiri. Mau di socmed, mau ndak di socmed, monggo.

Saya juga tadi merayakan Hari Ibu dengan Ibu saya, hanya cium tangan ketika berangkat mengurus kerjaan, dah, itu saja sih tadi cara merayakan hari ibu versi saya. Ibu saya saat ini sedang dalam berkebutuhan khusus. Pada tahun 2009, Beliau mengalami kecelakaan tunggal ketika hendak menuju sekolahan untuk mengajar.

Dalam keterbatasan beliau yang saat ini kehilangan satu pengelihatannya pun tidak menyurutkan semangat beliau untuk tetap mengajar di sebuah sekolah menengah atas di kota Solo. Pernah kami(saya, adik, bapak) bilang ke Ibu, gimana kalau di rumah saja, pensiun dini, tapi Ibu bersikeras menolak, karena dengan keterbatasannya beliau masih sanggup. Untungnya sekolahannya cukup mendukung apa yang jadi keterbatasan Ibu saya.

Pernah pada suatu hari, ibu mengajar pada kelas di atas, karena kondisi ibu saya yang cukup berisi(baca: gemuk), ibu pun naik ke tangga, dan menurut bapak ibu jatuh sehingga protesa(mata palsunya) lepas. Jujur saja waktu itu saya lemas dengar kabar itu, ketika itu saya yang masih di Jogja rasanya lemas, sedih dan pengen pulang, tapi dilarang sama bapak. Ibu pun seperti kehilangan semangat, karena dia merasa dirinya bukan dirinya yang dulu.

Ibu saya dulu selalu ke mana-mana sendiri, termasuk wanita yang bakoh. Naik motor dari Vespa PTS 80 hadiah pernikahan Almarhum Eyang, hingga sudah saatnya Vespa itu diisirahatkan diganti dengan Suzuki Shogunnya. Keluar kota dengan motor, pergi hujan hujan pun dengan motor, bahkan ketika Bapak waktu itu disekolahkan di luar negeri pun, kami berdua(saya dan adik) sekali telon(boncengan bertiga) dengan ibu saya.

Kamipun membesarkan hati ibu yang saat itu merasa hancur, karena dirinya merasa bukan wanita yang ‘utuh’ atau ‘sempurna’ di mata anak dan suaminya, padahal kamipun tidak menganggap itu. Semua masih melihat dirinya masih menjadi wanita yang sama. Wanita yang kemana-mana dulu bisa sendiri ketika suami pergi dinas luar kota bahkan luar negeri. Bisa melakukan hal yang di mana saat ini semua wanita belum tentu bisa melakukan banyak hal ketika ditinggal suaminya sendirian mengurus semua urusan di rumah sendiri. Satu hal yang saya dan keluarga masih jaga adalah api semangat beliau mengajar untuk murid-muridnya. Itu kata-kata yang kami berikan ke beliau ketika beliau sedang down. Naluri alami seorang pengajar yang tulus, meski dengan kekurangannya beliau masih mau dan mampu untuk mengajar.

Saya juga merasa berterimakasih kepada tempat ibu saya mengajar, di sana ibu saya diberikan fasilitas yang cukup baik untuk ibu saya. Bukan karena kekurangannya beliau diberikan keistimewaan, bukan. Karena menurut seorang kawan yang saya kenal di RBI(Rumah Blogger Indonesia) Mas Jaka Ballung yang kebetulan dirinya adalah penyandang difabilitas, bahwa “Semua Orang Adalah Calon Penyandang Difabilitas, Cuman Berat atau Tidaknya Belum Saatnya”. Saat itu saya tau bahwa kita memang ‘calon’ penyandang difabilitas, ntah karena sakit, ntah karena memang sudah dari lahir berkebutuhan khusus. Saya bersyukur di mana tempat ibu saya mengabdikan semua ilmunya dan membagikannya kepada murid-muridnya dengan keterbatasan yang ada lingkungan tempat dirinya mengajar mendukung itu. Saya berfikir, apakah semua tempat kerja sudah punya fasilitas untuk difabilitas? apakah sudah cukup ramah untuk orang yang berkebutuhan khusus? apakah lingkungan kerjamu juga masih atau mau mempekerjakan penyandang difabilitas? Apakah kotamu sudah ramah dengan penyandang difabelitas? cobalah kalian tengok.

Mulai dari kawan kawan Yayasan Talenta yang ada di RBI itu saya belajar banyak bahwa bagaimana memperlakukan seorang penyandang Difabilitas. Bukan mengistimewakan, tapi biarkan mereka melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan, dalam hal ini panggilan jiwanya. Mas Jaka Ballung ini salah satu penyandang difabilitas yang mempunyai karya yang luar biasa. Beliau ini membuat design design yang cukup sangar dengan microsoft words! ini adalah laman FB Mas Jaka Ballung KLIK INI.

Ya, dari contoh kedua itu, saya melihat bahwa seseorang yang berkebutuhan khususpun sanggup berkarya, tidak perlu merasa dirinya diistimewakan, bahkan ketika kita merasa diri kita utuh, kita pun merasa terbatas, tidak dengan mereka. Ibu saya contohnya, yang tiap hari saya temui di rumah. Memang beliau sudah tidak bisa cak-cek lagi, sudah tidak bisa memasak lagi(saya rindu masakanmu), sudah tidak bisa boncengin kita ke mana mana lagi, bahkan di mana adik saya melahirkan di mana semua ibu membimbing anaknya pun, beliau sudah tidak sanggup. Sedih rasanya. Tapi sayapun menghilangkan kesedihan itu dengan melihat bagaimana beliau bercerita kelucuan cucunya meski tidak ikut memandikan ketika kecil. Mendengar bagaimana dirinya bertemu dengan murid-murid yang ‘aneh-aneh’ dan lucu-lucu dan menceritakan ke kami ketika nonton dangdut di TV. Itu cukup membuat kami sekeluarga senang, bahagia.

Buat yang sudah tidak memiliki Ibu pun, selamat merayakan Hari Ibu, karena Ibu hanya tidak ada di depan mata, tetap ada di dalam hati diri kita masing-masing. Tetaplah merayakan hari ibu. Jangan pernah bersedih. Sayang seorang ibu itu abadi, bahkan doa seorang ibu itu langsung ke Tuhan tanpa perantara malaikat. Bahkan ketika Ibu sudah tidak ada di sisi kita, doa-doanya semasa hidup tetaplah abadi.

Di hari ini, saya ucapkan selamat hari ibu, dengan keterbatasanmu, kamu adalah wanita yang selalu hebat di mata anak-anakmu. Sehat selalu. Selalu berbahagialah! Selamat merayakan buat semuaaa! Hari Ibu ini hanya di tanggalan saja. Sebenarnya hari ibu adalah tiap hari. Dan Hari Bapak kapan? 🙁

 

Mas Jun

Working In Silence & Move When The Time Is Right. | Live Slow, Die Whenever. | A Motorcycle & A Mission | Lucky Bastard | Drink Too Much Coffee | me@masjun.com

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *