2

Kebaya Atau Daster?

Sebenarnya sudah pernah membahas tentang daster-dasteran ini, di sini pun saya membahas bagaimana pendapat saya tentang daster, tetapi seorang kawan yang ternyata penggemar berat daster membuat tulisan tentang daster di hari Kartini. Saya pun tergerak untuk membuat postingan balasan di blog saya yang ambyar ini.

Oke, jadi gini, setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia selalu memperingati hari lahirnya Pahlawan Wanita asal Jepara. Pahlawan yang menurut sejarahnya adalah pahlawan yang memperjuangkan emansipasi wanita pada jamannya sehingga sekarang kedudukan wanita sama dengan pria.

Yang jadi pertanyaan saya, kenapa setiap 21 April selalu lekat dengan kebaya dan pakaian adat? sudah pasti menjelang tanggal 21 April banyak mbak mbak kantoran yang ribet dan repot cari pinjeman atau ndandakne kebaya hanya untuk meramaikan acara Kartinian di tempat kerjanya. Tujuannya apakah untuk menghormati hari kelahiran Kartini atau hanya pamer punya kebaya keren dan mahal saja?

Bukankah Ibu Kita Kartini. (((KITA))) memperjuangkan hal tentang tidak ada paksaan dan keharusan kepada kaumnya kan? kenapa sekarang harus repot-repot cari kebaya bahkan sampai buat kebaya khusus hanya untuk mendatangi acara Kartinian di tempat kerjanya?

Tentang daster sendiri, sekarang lihatlah bagaimana seorang wanita di pasar atau yang hanya sebagai ibu rumah tangga di rumah, apakah mereka repot-repot pakai kebaya untuk memperingati Hari Kartini? Saya rasa tidak. #pitikih.

Hmmm.. Terkadang kita lupa bahwa sebenarnya perjuang wanita sejati itu ada dan siap setiap saat untuk rumah dan keluarganya, dan seorang wanita yang berdaster yang bekerja keras untuk keluarga itu merupakan Kartini bagi keluarganya. Bukan sekumpulan mbak-mbak yang hanya pamer foto-foto pakai kebaya yang diupload di social media saja. Saya yakin kok, di antara mbak-mbak itu akan lebih oye semisal berdaster tali satu dan diupload di social media. #halah

Bentar, bentar.. Ini serius, permasalahan Daster memang cukup pelik, seperti halnya masalah tali kotang yang mlintir. Memang jaman sekarang berbeda dengan jaman Kartini yang identik dengan Kebaya kalau Kartini hidup di jaman sekarang mungkin dirinya akan berjuang dengan rok span atau celana jins pensil dengan blus atau apalah itu. Perkaranya hanyalah masalah perbedaan jaman, mungkin daster adalah penemuan terhebat umat manusia no 2 setelah ditemukannya ciduk yang sampai sekarang belum diketahui siapalah penemu ciduk dan daster.

Perkara kepraktisanlah yang membuat seorang wanita ‘berjuang’ untuk keluarga yang ketika di rumah hanya mengenakan daster. Dari memasak untuk anggota keluarga, menyapu, ngepel, cuci baju, cuci piring, dll *lalu membayangkan mbak-mbak yang berdaster nyapu trus siram-siram halaman rumah*.   Bukan berarti wanita itu harus berada di rumah saja. Saya juga tidak setuju dengan wanita itu Dapur, Kasur, Sumur.  Toh seperti halnya seorang pria yang di rumah hanya mengenakan celana kolor dengan kaos yang sobek sanggup benerin listrik, nguras bak mandi, dan pekerjaan rumah lainnya.

Inti dari tulisan ini adalah, terkadang kita direpotkan hanya untuk sebuah acara ceremonial setahun sekali yang hanya merepotkan diri sendiri tapi keluar dari arti perjuangan Kartini itu sendiri. Buat apa Kartini jaman dulu memperjuangkan hak wanita tetapi sekarang masih mau diatur oleh aturan aturan yang merepotkan itu?. Saya rasa itu bukan makna dari perjuangan Kartini.

 

SELAMAT HARI KARTINI BUAT WANITA WANITA SE INDONESIA. MERDEKAKAN DIRIMU. JADILAH KARTINI BUAT DIRIMU, KELUARGA, ORANG YANG KAMU SAYANGI DAN ORANG SEKITARMU. MERDEKA!

Mas Jun

Working In Silence & Move When The Time Is Right. | Live Slow, Die Whenever. | A Motorcycle & A Mission | Lucky Bastard | Drink Too Much Coffee | me@masjun.com

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *