3

Kirang 500 Rupiah Mboten Menopo, Bu?

 

Tadi siang setelah jum’atan seperti biasa, saya sebagai bakul di sini berkeliling mencari bahan untuk mempersiapkan rencana produksi untuk bulan ini. Ritual manasi motor pun seperti biasa, tampak motor kotor sekali karena Solo dalam beberapa hari ini hujannya agak awet. Cen rodo nganyelke.

Liat jam ternyata waktu masih memungkinkan untuk mencuci motor, tentunya sambil melihat bagiamana kondisi langit(ternyata aman). Sekitar 10 menit menuju tempat cucian motor yang kebetulan juga dekat dengan pabrik tempat saya mengambil bahan kain batik.

Tempat Warung Lotek dan Gado-Gado

Tempat Warung Lotek dan Gado-Gado

Motor naik tangkringan untuk dicuci, ambil rokok dan kemudian saya kok merasa aus, ya wis clingak clinguk di sekitaran tempat cucian motor ada toko kelontong dan bakul lotek. Kebetulan setelah seharian kemarin Solo diterpa ujan deres banget Solo hari ini cukup pating clekit panasnya. Akhirnya saya memutuskan untuk menuju ke warung lotek saja untuk pesen es teh.

Sampai di warung lotek saya mau pesen es teh, tapi ibu’e bakul tampak sibuk sekali menerima banyak pesenan lotek dan gado-gado dibungkus. Ya wis, saya akhirnya memutuskan membeli Air Akuwa saja. Habisnya 2500 Rupiah. Saya beri uang 3000 ke ibu tersebut. Karena kebetulan saya sudah gaanti celana yang berisi banyak receh, dan kebiasaan saya adalah selalu mengumpulkan recehan tersebut pada sebuah wadah di dekat meja kerja di dalam kamar. Jadi ya ndak ada recehan sama sekali.

“Bu, menika 3000” (Bu, Ini 3000)

“Duh, nak, tangan kulo kotor menika, mang mendet jujulan mawon, dipaske” (Duh, Nak, tangan saya kotor tuh, ambil saja kembaliannya buat dipasin saja”

“Kacang’e pintenan, Bu?” (kacangnya berapaan, Bu?)

“Setunggal ewu, Nak.” (Seribu, Nak..)

“Waduh, tasih kirang 500 kulo, Bu!”(Waduh, masih kurang ini bu uang saya)

“Ah, pun. Mang pendet mawon mboten menapa!” (Ah, sudahlah. Ambil saja ndakpapa)

“Matur nuwun nggih, Bu” (Makasih ya, bu)

“Njih, Sami-sami Nak! Nembe ngentosi motor dipun cuci to?”(Iya, sama-sama, Nak! Baru nunggu motor yang sedang dicuci ya?)

“Njih, Bu!” (Iya, Bu!)

“Sampun maem dereng? Pesen lotek napa gado2 lho” (Sudah makan belum? Pesen lotek apa gado-gado lho!).

“Pun, bu! Sampun wau maem wonten dalem” (Sampun, Bu! tadi sudah makan di rumah.)

Percakapan di atas itu terjadi disambil ibu membuat gado-gado pesanan orang yang juga sedang menunggu di kursi.

Air Mineral dan Kacang Asin

Air Mineral dan Kacang Asin

Akhirnya sayapun bergegas menyebrang jalan lagi untuk menunggu motor saya selesai dicuci itu. Sambil makan kacang yang asin tersebut saya mikir. Saya baru saja pertama kali beli di sana dan si ibu itu menganggap saya seperti langganan lama saja, mungkin inilah cara ibu itu memperlakukan semua pembelinya agar kembali lagi. Seperti halnya kisah saya dengan si Mbah Pakualaman. Semoga loteknya laris njih Bu! Insha Allah saya kalau ada waktu pasti tumbas lotek di sana sambil nunggu motor saya dicuci.

 

Mas Jun

Working In Silence & Move When The Time Is Right. | Live Slow, Die Whenever. | A Motorcycle & A Mission | Lucky Bastard | Drink Too Much Coffee | me@masjun.com

3 Comments

  1. aku yo ngono kok kang. Nek pelanggan vectorku penak diajak ngobrol, yo langsung tak anggep bolo dewe. ahhaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *