7

Malu Pulang

Ya, malu pulang. Itu kata yang pernah Saya baca di bak belakang truk. Yah, memang aneh-aneh isinya. Banyak makna yang tersirat. Bahkan ‘sentilan’ di balik truk itu cukup membuat kita bisa tersenyum kemudian berfikir sejenak dan kadang berkata dalam hati ‘asem ik, bener juga’

Pulang_Malu_Tak_Pulang_Rindu

Lalu berfikir, kenapa mereka seperti itu. Menulis kata-kata yang ntah dari siapa memulainya. Pikiran Saya sih dulu mereka(supir truk) itu semacam curhat lalu dituliskan dibelakang tutup bak truknya. Ambil contoh “Pulang Malu Gak Pulang Rindu”, ini mungkin mereka berfikir kalau mereka(supir) itu pulang ke rumah hanya dengan status supir truk atau belum membawa hasil mereka akan malu untuk pulang ke rumah bertemu keluarganya. Mungkin seperti itu.Pernahkah merasa malu untuk pulang? Ya. Saya pernah. Malu pulang bertemu keluarga karena belum pernah bisa memiliki apa-apa. Seperti halnya supir truk. Pergi berkelana membawa beban yang berat ketika pulang harus mendapatkan hasil. Dan sepertinya beban berat masuk pintu rumah untuk bertemu keluarga. Meski terkadang kita tidak tau kalau sebenarnya keluarga itu tempat dimana bisa menerima segala kekuranganmu.

Jadi, menjelang lebaran ini apakah kalian sudah siap dan tidak malu untuk pulang ke rumah meski belum membawa hasil apa-apa atas hasil jerih payahmu selama merantau? Apakah sudah bersiap bertemu keluarga dan tidak malu menghadapinya?

Mas Jun

Working In Silence & Move When The Time Is Right. | Live Slow, Die Whenever. | A Motorcycle & A Mission | Lucky Bastard | Drink Too Much Coffee | me@masjun.com

7 Comments

  1. tulisan ini jadi inget perbincangan pas kita ngopi di hokya dulu.. sebenarnya bukan hanya “kita masih bisa survive,” tapi bagaimana kita bisa berkembang dan membawa hasil setiap kita pulang 😀
    Semoga kita segera dimasukkan golongan orang-orang yang berkembang terutama BERKEMBANG BIAK!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *