4

Perkara Tutup Gelas

Malam hari, dingin, laper. Mau makan tapi kok lauk di rumah tinggal perkedel, daripada nanti masuk angin diputuskan malam itu nyaut kunci motor dan keluar cari makan. Bingung antara pengen ke Wedangan atau Nasi Liwet, hidangan malam di Solo, daripada motor ndak bisa jalan buat cari makan isi bensin dulu, setelah bensin terisi penuh lalu muterlah ke jalan Slamet Riyadi Solo.

Soto_Bengi_Solo

Ternyata hawa di luar waktu itu lumayan dinginĀ  23 derajat celsius(menurut suhu di hape), Nasi Liwet kurang cocok, Wedangan pasti yang anget cuman tehnya. Meluncurlah alternatif berikutnya. Adalah Soto! nah! Berhubung ada semacam gerakan(malah koyo senam. gerak lagu) #rabosoto yaitu makan soto pada hari rabu. maka cari Soto yang buka pada malam hari. Yaitu Soto Bengi yang letaknya di Jalan Slamet Riyadi, samping Pizza Hut depan Bank Mega jalan Slamet Riyadi. Saya tahu Soto ini karena dulu waktu adik sedang terkena cobaan bingung cari makan jam 2 pagi, ketemulah warung Soto ini. Letaknya yang pinggir jalan dengan lampu yang terang tampaknya oke kalau dicoba. Hidangannya juga oke, lauk yang ada juga komplit, kalau perkara rasa waktu itu Saya ndak gitu peduli karena laper banget.. eh kok ya enak! kalau nilai sih 8/10(karena rasa adalah selera). Kuah yang menurut Saya seger, pokoknya cocok lah. Nah, Soto ini sebenernya ada minuman pendamping yang pas. Kalau Saya lihat di sana banyak minuman instan sasetan, tetapi Saya memilih teh anget saja dengan gula satu setenga. pokoknya ndak perlu manis-manis, yang penting pengertian lah kalau Saya… Karena minum teh anget emang yang cocok buat cuaca yang sekarang kalau malam pas ndak hujan dingin dan hawanya ndak sante! semacam pengen ngajak berumah tangga.

Pembeli Adalah Tamu Rumah, Bukanlah Raja

Setelah memesan teh dengan Soto tentunya… hoooop! kok malah ngebuzz Soto Mbengi. . oke, Kembali lagi ke perkara tutup gelas. Di warung Soto ini ternyata gelasnya ada tutupnya! Ini yang buat Saya kaget, karena jaman sekarang ini jarang sekali warung makan ada tutup gelasnya kalau ada yang pesan minuman panas/hangat. Karena sekarang warung-warung ndak pada nyediain tutup gelas buat minuman hangat/panasnya. Sepertinya sepele, tetapi buat Saya yang sangat selo sekali ini tidak. Kenapa? Karena menurut Saya, sebuah warung makan yang menyediakan tutup gelas buat minuman hangat/panasnya ini menganggap pembelinya adalah tamu, separti tamu yang ada di rumah mereka tersebut. Buat mereka, pembeli bukanlah Raja, tapi seperti tamu yang harus dimulyakan. Sebagian penjual memang agak males dan repot dengan adanya tutup gelas, karena mereka pasti meluangkan waktu lebih banyak untuk mencuci tutup tersebut, dan tidak praktis atau malah membuang tenaga. Hmm.. Memang, buat warung makan mencuci itu pekerjaan yang sungguh capek, apalagi warung yang rame dengan pengunjung, pasti tambah repot, dari nyuci gelas, sendok, piring, mangkok.. eh.. kok ditambah nyuci tutup gelas.

Teh_Anget

 

Kembali ke perkara penjual yang menganggap pembelinya adalah tamu tadi, saya yang bisa dibilang separuh umurnya suka jajan di warung makan karena sempat merantau cukup lama, melihat warung makan dengan tutup gelas itu hal yang aneh, sebenarnya buat orang yang begitu memperhatikan pasti ndak begitu ngerti kenapa. Memang, tutup gelas itu gunanya buat menutup gelas(?). Menutup gelas dari kotoran yang kemungkinan masuk ke dalam gelas tersebut, ada juga biar gelasnya tidak dirubung(dirubung itu bahasa Indonesianya apa?) semut, ada juga yang buat minuman itu tetap hangat tidak cepat dingin. Sebenarnya yang terakhir itu buat Saya yang benar, karena kalau minuman cepat dingin pasti tidak enak rasanya. Seperti halnya bertamu ke rumah orang, ketika disuguhin minuman hangat/panas dengan tutup gelas pasti obrolan dengan pemilik rumah pasti lebih lama dan menyenangkan sekali. Ini yang membuat suasana jadi lebih menyenangkan. Bukan begitu?

Menjadi Akrab Dengan Penjual dan Merasa Seperti Keluarga Buat Perantau Itu Menyenangkan

Seperti halnya kejadian Saya tadi, makan Soto yang hangat dengan sate paru dan sosis Solo yang enak. Setelah makan selesai, minum tehnya juga masih hangat. Pembeli juga tenang tidak buru-buru pulang, menikmati malam dingin dengan perut yang sudah terisi dilanjutkan dengan minum teh sesruput sesruput karena tehnya masih agak panas tentu jadi nikmat sekali, bukan malah setelah makan lalu minumannya jadi dingin lalu buru buru pergi dari warung tersebut. Buat Saya pribadi, Saya yang suka udut dulu setelah makan dengan teh yang masih hangat sambil ngobrol basa basi dengan penjualnya tentu lebih menyenangkan, bukan malah langsung menghabiskan minuman lalu bayar, pergi. Dengan adanya tutup dan sedikit basa basi itu siapa tau nanti malah akrab dan jadi langganan warung tersebut. Menjadi langganan karena nikmat tehnya, dan hidangannya, dianggap seperti tamu seperti di rumah sendiri di sebuah warung makan itu buat orang yang pernah merantau yang jauh dari keluarga itu rasanya menyenangkan sekali. Seperti ada keluarga lagi. Kok panjang ya. hahahah.. Sekian penjelasan tentang perkara tutup gelas yang Saya temui sehabis makan di warung Solo Bengi di Solo.

Kontes Tulisan Tentang Solo

Mas Jun

Working In Silence & Move When The Time Is Right. | Live Slow, Die Whenever. | A Motorcycle & A Mission | Lucky Bastard | Drink Too Much Coffee | me@masjun.com

4 Comments

  1. Minggu kemarin saya main ke kantor pulisi di Jakarta, sama Mas OB disuguhi kopi hitam dalam gelas belimbing, lengkap dengan tutup gelasnya!

    Pengen moto kok malah keburu diajak ngobrol Bu Pulisi hehe..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *